The Journey

I’m on my comfort zone. Di dalam kamar yang berukuran 6×4 meter, lengkap dengan kamar mandi, dan jaringan internet yang selalu terkoneksi.

Mereka bilang, ini kamar kosan. Tapi buat gua, tempat ini lebih mirip semacam simulasi hidup berumah tangga dan bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan. Kadang tetangga bisa jadi teman curhat, tapi engga jarang juga mereka berubah jadi musuh yang paling jahat. Terlalu banyak yang harus gua ceritakan buat ngejelasin hal tersebut.

Kali ini, engga-seperti-beberapa-tahun-belakangan, gua berada di sini buat sebuah tujuan. Mengurus kepindahan kuliah, dari kampus lama ke kampus baru yang-masih-baru-sekedar-rencana bakalan berjarak lebih dekat dari tempat tinggal gua. Alesannya, karena udah enggak ada lagi teman seperjuangan yang bisa jadi tumpuan. Mereka udah lebih dulu lulus, dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Dan gua, yang engga bisa hidup sendirian, ngerasa enggak akan mampu buat terus-terusan bertahan di kosan. Gua harus pulang. Balik ke kampung halaman.

Β Setelah mengingat dan menimbang tanpa dihubungkan dengan undang-undang seperti halnya mereka yang punya tugas bikin peraturan, gua baru sadar. Kalo di Jatinangor, gua punya banyak orang-orang yang gua sayang. Yaa.. Mungkin enggak sebanyak itu, tapi sebutan “rumah kedua” buat kosan gua jelas jadi bukti kalo gua lebih nyaman di sini daripada diem di Bekasi, di rumah gua sendiri. Sedangkan di Bekasi, gua punya banyak orang-orang yang sayang sama gua. Dari mulai keluarga. Orang tua dengan kasih sayang dan dukungan mereka yang tanpa batas, saudara kembar yang selalu siap buat jadi teman ngobrol di kamar atas, hingga teman-teman sekolah dulu. Yang karena udah saking tuanya, sama sekali engga pantes lagi pake seragam putih abu-abu.

Dan akhirnya, hal ini semakin menguatkan keinginan gua buat buru-buru pindah kuliah. Petualangan gua merantau di tempat memang sudah harus berakhir. Ada sih sedikit nyesel, kenapa engga dari kemarin-kemarin, bahkan kenapa engga dari awal aja gua diem di sana. Tapi gua percaya, everyhing happen for a reason. Tuhan pasti punya rencana. Kalo engga begini, gua engga akan bisa jadi kaya sekarang ini. (*emangnya udah jadi apaan sekarang?!)

Karena kadang, satu-satunya cara untuk menyelesaikan petualangan itu bukan dengan mencapai tujuan. Tapi dengan berlari pulang..

JKMLN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s