Aku Menunggu

22.42

Aku masih di sini. Duduk di depan komputer tanpa tahu apa yang harus aku kerjakan. Tulis-lalu-hapus, kemudian ditulis-lalu-dihapus. Bahkan aku tidak bisa menemukan kata-kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini.

Dua puluh menit berlalu, dan aku masih di sini.

Mataku berputar mengelilingi kamar lalu terpaku pada sebuah kipas angin yang sejak siang tadi kubiarkan menyala. Menghembuskan angin ke seluruh penjuru kamar. Meniup abu dalam asbak yang selalu penuh dengan puluhan batang puntung rokok.Β  Mungkin dengan begitu, suasana kamar ini bisa lebih tenang dan menyejukkan. Tapi ternyata kipas angin yang sudah terlanjur renta itu tidak bisa berbuat banyak, udara di luar terlalu panas. Bahkan angin malam yang kubiarkan masuk lewat jendela kamarpun terasa kering. Persis seperti gelas kopi yang sudah kuteguk isinya hingga kosong. Kini kubiarkan gelas itu berdiri disamping monitor, sesekali mataku beradu tatap dengan gelas itu.

Ga usah diganggu, mungkin emang itu yang dia mau, pikirku sambil menghembus asap dari mulut. Asap rokok lalu menyebar, menyeruak memenuhi kamar yang hanya diterangi satu buah lampu ditengahnya. Aku yang duduk di bawah lampu itu kemudian berpikir, mengirimkan pesan singkat secara berantai dan membabi buta untuk bertanya sedang apa dia di sana memang bukan pilihan yang bijak, setelah peristiwa kemarin malam. Peristiwa yang sudah kutahu persis pangkal berakhirnya.

Mungkin dia memang sedang bosan dengan kehadiranku. Aku, orang yang menyeretnya masuk secara paksa ke dunia yang –tanpa dia tahu sebelumnya– akan menguras seluruh tenaga dan emosi, mungkin hingga jiwanya. Dunia yang tidak pernah memberinya izin untuk sejenak saja berhenti lalu keluar, meninggalkan semua pernak-pernik yang menghiasi namanya, atas nama cinta.

Atau mungkin, dia perlu waktu untuk dirinya sendiri. Menghabiskan waktu dengan menonton televisi sambil melebur dengan kasur, berselimut sambil memeluk guling. Atau sekedar duduk santai, tanpa memikirkan apapun.

Ah! Mungkin dia memang sudah tidak lagi menginginkan aku.

Cuma dia, dan tuhan yang tahu.

Aku bisa bilang saat ini dia takut. Dia takut karena dia ingin jujur. Dan kejujuranlah yang menyudutkannya untuk mengakui bahwa dia ragu. Aku bisa bilang dia paham, atau setidaknya setengah memahami. Betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian. Seperti yang sedang aku lakukan.

23.55

Aku berhenti berharap dan mulai menyerah. Andaikan dia menginginkan untuk pergi, aku cuma berharap semoga dia pergi tanpa pernah menoleh lagi. Hidupku, hidupnya, akan jauh lebih mudah.

Apapun jawabannya. Semoga dia tau, aku masih menunggu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s