Aku, Sepeda, dan Bubur Ayam

Pagi itu tidak seperti biasa, Apeh membangunkan aku dan Ajie yang masih terlelap tidur. Terlalu pagi untuk bangun di hari Minggu, hari dimana setiap orang di dunia mungkin akan bangun siang dan bermalas-malasan sepanjang hari. “Ayo, bangun. Pada mandi kalo mau ikut” Apeh langsung menjawab tanpa kutanya sebelumnya. Aku yang tidak punya sejarah dan keberanian lebih besar untuk melawan orang tua, akhirnya hanya bisa bergegas mengambil handuk untuk mandi dan merelakan moment terbaik untuk tidur.

Beberapa saat kemudian aku dan Ajie pun sudah siap untuk pergi. Rupanya acara pagi itu adalah main sepeda. Aku pun keluar menuntun sepeda usang berwarna putih biru merk Mustang yang aku gunakan tiap pergi ke sekolah. Aku masih ingat, beberapa hari sebelumnya Apeh terlihat sangat senang memamerkan sarung tangan baru yang akan dia gunakan untuk bersepeda. Dengan mengayunkan tangan, senyum yang lebih mirip nyengir, lengkap dengan topi dan tas pinggang. Mungkin Apeh bermaksud mewariskan hobi main sepedanya itu kepada aku dan Ajie.

Tujuan pertama kami pagi itu adalah Proyek Bekasi. Rupanya matahari yang masih malu-malu tidak membuat tiap orang lantas bermalas-malasan di hari Minggu. Pagi itu, aku menyantap semangkuk bubur ayam hangat lengkap dengan telur dan sate. Begitu lahap dan nikmat hingga aku pun lupa, beberapa menit yang lalu aku jengkel bukan main karna dibangunkan secara paksa.

Pagi itu rupanya bukan cuma Apeh, aku dan Ajie yang punya rencana untuk pergi main sepeda. Apeh rupanya sudah membuat janji lebih dulu untuk pergi bersepeda dengan teman-teman kantornya yang pagi itu aku lihat ikut membawa serta anaknya. Bagus, setidaknya bukan cuma aku dan Ajie yang harus merasakan dinginnya air tanpa penghangat.

Touring pun dimulai sesaat setelah sarapan. Saat itu, aku belum punya kebiasaan merokok setelah makan, sehingga tidak butuh waktu lebih lama untuk melanjutkan kegiatan lain. Rute yang cukup jauh untuk ukuran anak kecil seusiaku, pagi itu kami touring sepeda hingga daerah Setu, Bekasi. Tempat yang hingga saat ini tidak pernah aku ingat lagi. Pagi itu, moment terbaik yang pernah aku punya bersama sepeda, Apeh dan bubur ayam. Untuk pertama kalinya, aku punya cerita untuk dikenang yang hingga saat ini masih terbayang.

Beberapa hari setelah itu, aku mulai memberanikan diri untuk bertanya, “Apeh gak mau pergi touring lagi sama temen-temen kantor kaya kemarin, peh?” tanyaku. “Kalo mau sih, nanti Apeh ajakin lagi” ujarnya tanpa sedikit pun melihat kearahku. Apeh memang sosok yang paling aku takuti. Bukan karna suaranya yang menggelegar ke setiap ruangan kamar di rumah kami tiap kali aku dan Ajie melakukan kesalahan, yang kemudian disambung dengan jeweran. Tapi karna aku menghormati sosok Apeh yang selama ini selalu jadi panutan. Cerita masa kecil, hidup merantau dan jatuh bangun-nya yang jarang aku dengar dari orang lain membuat aku merasa harus berpikir dua kali sebelum berbuat.

Pagi itu, tidak seperti pagi kemarin. Aku tidak lagi jengkel karna dipaksa bangun pagi, aku justru menunggu sejak malam untuk pagi ini. Dengan semangat dan sedikit melompat, aku bergegas mandi dan bersiap untuk pergi. Pagi itu, sesuai janji Apeh beberapa hari sebelumnya, kami akan pergi touring.

Rute perjalanan kami masih sama, semua dimulai dengan semangkuk bubur ayam hangat lengkap dengan telur. Semua teman kantor Apeh masih sama dengan yang minggu lalu. Cuma satu hal yang berbeda. Pagi itu, tepat beberapa genjotan setelah sarapan, aku merasakan sakit perut yang bukan main rasanya. Menusuk lambung hingga memaksaku untuk terus membungkuk tanpa sedikit pun memberi ampun. Mungkin aku terlalu bersemangat untuk sarapan sehingga tidak menyisakan sedikitpun tenaga untuk bersepeda.

Acara minggu pagi itu pun berakhir lebih awal dari jadwal. Apeh dengan wajah marah namun terkesan aneh karna topi dan tas pinggangnya, akhirnya memutuskan untuk kembali pulang dan membatalkan touring, sementara teman-teman kantornya yang lain memilih untuk melanjutkan perjalanan.

Rupanya, bukan bersepeda yang membuatku begitu menggebu-gebu untuk bergegas bangun dan melewatkan jadwal Doraemon di Minggu pagi, tapi hanya semangkuk bubur ayam hangat lengkap dengan telur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s