Damri

Buat gua – dan golongan masyarakat menengah ke bawah lainnya, Damri merupakan pilihan unggulan seandainya gua jalan-jalan. Tempat tinggal gua kali ini emang boleh dibilang terlalu jauh dari kampus. Bayangin aja, gua mesti bangun 3 jam lebih awal supaya bisa siap-siap dulu sebelum ngampus. Belum lagi kalo ada jadwal kuliah jam 6.30 pagi, gua mesti bangun jam 4 subuh. Minimal gua berangkat dari kostan itu jam 5 subuh!

Tapi yang mau gua bahas kali ini, bukan soal jadwal dan jarak kuliah gua. Tapi lebih ke fasilitas umum yang gua pake buat bulak balik kampus-kostan, Damri.

Sebagai angkutan umum yang digunakan oleh sebagian besar orang yang enggak punya kendaraan, atau mungkin mereka yang engga terlalu hobi bawa kendaraan Damri bisa dibilang punya potensi besar buat mengurangi kemacetan. Sayangnya, perhatian pemerintah masih minim buat hal ini. Satu dari sekian banyak alasan yang bisa bikin orang males naik Damri, kenyamanan.

Siang ini gua ujian, jadi gua bisa beres kuliah lebih cepet. Karna gua bukan orang yang hobi buat berlama-lama di kampus, gua pilih buat langsung pulang. Cuaca panas rasanya engga aneh, meskipun buat ukuran Bandung sekalipun. Hari ini Jumat, di belahan dunia mana pun, gua yakin Jumatnya panas. Jadi kalian bisa maklum dan mengerti kenapa gua jadi lebih hobi diem di kamar dibanding keluar ke mesjid di hariΒ  Jumat.

Sialnya lagi, gua kebagian Damri yang enggak Ac. Dibanding gua mesti nungguin keberangkatan berikutnya yang bisa 1 jam kemudian, mau enggak mau gua numpang duduk di Damri itu.

Posisi duduk yang kesannya terlalu dipaksain, lutut mentok sama kursi depan. Aroma bau badan, parfum yang terlalu nyengat, sama bau mesin bis yang udah campur aduk sama sekali enggak bisa dibilang nyaman. Gua yang biasanya seneng kalo liat gerbang tol, malah jadi sebel sendiri. Karna itu artinya bakal tambah penumpang, tambah aroma, tambah rebutan udara.

Dan keadaan kaya gitu mesti gua tahan selama dua jam ke depan. Jaraknya emang enggak terlalu jauh, cuma pilihan rute yang muter-muter, dan kebanyakan nge-tem itu yang bikin lama.

Andai aja semua unit Damri itu Ac, dan jumlah unitnya ditambah, mungkin jumlah penumpangnya pun engga selalu dipenuh-penuhin dengan asal asalan. Kalo udah begitu, bukan enggak mungkin gua-dan semua orang yang engga terlalu hobi bawa kendaraan, bisa beralih dan lebih betah sama angkutan umum yang satu ini.

kalo ada orang damri yang baca ini, mungkin dia bakalan bilang, “Bayar tiga rebu aja mau enak. Kenapa enggak naik taksi aja?!”

2 thoughts on “Damri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s