kamu sadar, saya punya alasan untuk selingkuh ‘kan sayang?

Tamara yang sebelumnya kita kenal sebagi presenter acara olahraga dan infotainment di televisi ternyata juga seorang penulis yang handal. Sebagai penulis yang baru mulai, ia telah berprestasi menyelesaikan buku berjudul lumayan panjang setebal 200 halaman lebih. Dua belas cerpen tersusun dalam kumpulan ini. Beberapa di antaranya adalah cerpen yang panjang. Jelas terlihat ia memiliki referensi luas sebagai bahan dasar pembuatan setiap cerpennya. Wajar, karena ia memiliki perpustakaan yang besar di dalam otaknya, sama besarnya dengan perpustakaan di rumahnya. Tak banyak yang tahu, Tamara adalah pemborong buku yang setia di setiap pameran buku termasuk Pesta Buku Gramedia di BBJ. Tentu saja tanpa make up dan atribut keartisan lainnya, ia datang dan berhasil belanja buku dengan tidak mencuri perhatian orang. Kebanyakan, buku-buku itu ia lahap sambil berendam di bathtub dalam kamar mandinya yang mewah.

Beberapa cerpen di dalam buku ini berkisah tentang kompleksitas cinta dalam hubungan suami-istri (“Kamu Sadar, Saya Punya Alasan untuk Selingkuh Kan Sayang?”, “Punggung Caska dan Berto”, “Pengantar Bunga yang Tertahan Pemeriksaan”). Perselingkuhan menjadi hal yang tidak tabu dan biasa saja di dalam cerpen-cerpen ini. Tamara juga menulis tentang orientasi seksual yang berbeda dalam cerpen “Toilet Shower, Good Idea!” dan “Nobody Knows …”. Di cerpen-cerpen ini bisa terbaca bahwa homoseksual dan perilaku seksual yang variatif (jika tidak boleh dibilang berbeda) bukanlah barang haram yang patut disembunyikan. Tema lain yang diusung Tamara adalah kematian dan kehidupan setelahnya (“Maaf, Kita Harus Kenalan dengan Cara Seperti Ini”, “Perempuan yang Berteman dengan Hantu”, “U Turn”, dan “Mengajari Tuhan”). Kehidupan setelah mati menjadi hal yang membuat Tamara bereksplorasi dengan permasalahan eksistensi manusia. Di cerpen “Mengajari Tuhan”, ia lancar mencitrakan Tuhan dalam perspektif personalnya. Dalam “Bahasa yang Dimengerti Hati” dan “Sehari Suntuk Bersama Christiano Ronaldo” ia bermain-main dengan bentuk dalam menyampaikan kisahnya. Realitas ekstrem seperti aborsi, seks bebas, pecandu narkoba juga ia ceritakan dengan dingin. Tak ada pretensi, semua cerpen dalam buku ini ia sajikan dengan lugas, blak-blakan, witty, serius tanpa kehilangan rasa humornya yang kadang terbaca perih.

Tamara Geraldine bukan sekadar artis yang menulis. Ia memang penulis. Buku ini adalah pembuktiannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s