Toleransi Dibalik Warung Nasi

Saeni

Beberapa hari kemarin, dunia sosial media di Indonesia sempat dihebohkan oleh pemberitaan tentang penertiban warung makan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kota Serang. Di dalam tayangan berita tersebut, terlihat seorang ibu penjual warung makan dengan wajah pucat pasi dikelilingi aparat. Si penjual menangis tersedu karena tak rela barang dagangannya disita. Sontak hal tersebut pun memancing beragam komentar dan simpati dari para netizen, bahkan ada beberapa diantara mereka yang berinisiatif untuk mengumpulkan donasi yang kemudian disalurkan kepada si ibu penjual warung makan, yang belakangan diketahui bernama Saeni. Tidak tanggung-tanggung, angka donasi yang terkumpul dalam mencapai 250 juta lebih.

Layaknya sebuah berita hangat, cerita warung nasi bu eni pun kemudian mulai ramai diperbicangkan. Namun tulisan ini tidak akan membahas tentang siapa Saeni dan bagaimana kelanjutan cerita setelah ia menerima uang donasi. Tulisan ini hanya berusaha memberikan pendapat personal yang mungkin akan terlalu panjang kalo mesti dituliskan di timeline Twitter atau halaman Facebook.

Menurut pendapat pribadi gue, bagian paling menggelitik dari balada warung nasi saeni ini justru ketika orang-orang mulai menghubungkannya dengan sentimen agama. Ada yang beranggapan kalo perda ini merupakan bentuk arogansi pemeluk agama islam sebagai mayoritas di kota Serang. Bahkan ada beberapa yang menyatakan bahwa penertiban warung Saeni merupakan bukti kalo pemeluk agama islam di daerah tersebut, secara tidak langsung, memaksa pemeluk agama lain yang tidak ikut berpuasa untuk menghormati mereka yang berpuasa.

  • Peraturan Daerah Sebagai Wujud Perwakilan Suara Lokal

lt575e7dde569f8

Emang bener, Perda Nomor 2 Tahun 2010 tentang Pencegahan, Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit Masyarakat Kota Serang ini mengatur beberapa hal, salah satunya soal larangan penjualan makanan pada siang hari di bulan puasa. Tapi perda tersebut engga cuma mengatur soal itu. Kategori penyakit masyarakat yang dimaksudkan di dalam perda tersebut, antara lain pelacuran dan penyimpangan seksual, waria yang menjajakan diri, minuman beralkohol, gelandangan dan pengemis, serta anak jalanan. Bahkan, masih menurut perda tersebut, permainan ketangkasan atau jasa layanan internet yang membiarkan anak-anak berpakaian seragam sekolah bermain di tempat tersebut pada jam-jam sekolah seperti play station, video game dan online internet juga masuk kategori penyakit masyarakat.

Bahkan perda itu sendiri sudah berlaku sejak 2010, dan baru kali ini rame diobrolin. Peraturan daerah adalah produk hukum yang dihasilkan oleh pemerintah daerah, dalam hal ini Walikota Serang bersama DPRD Kota Serang. Dengan asumsi itu, menurut pendapat gue, sejatinya setiap aturan yang berlaku di suatu daerah adalah bentuk perwakilan suara lokal, atas dasar aspirasi masyarakat.

Kota Serang yang merupakan ibukota Provinsi Banten sendiri merupakan daerah yang dulunya dikuasai kerajaan Islam. Maka ketika kita berbicara soal tata-cara ibadah di daerah tersebut, sejatinya kita tengah berbicara tentang nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Sesuatu yang sudah ada terlebih dahulu jauh sebelum adanya aturan tersebut. Maka sudah seharusnya nilai-nilai budaya itu dilindungi dan dipelihara oleh siapa pun.

Untuk bisa memberikan penilaian yang lebih berimbang terhadap aturan ini, maka kita perlu menggunakan perspektif warga Serang dan tidak memberikan pendapat sebagai warga Jakarta, Bekasi, atau kota lainnya. Karena keberlakuan peraturan tersebut hanya berlaku di kota Serang, kota yang 92.8% dari penduduknya adalah pemeluk agama islam. Rasanya wajar kalo kemudian pemerintah daerah sebagai penyelenggara pemerintahan dan pemegang tanggung jawab atas jaminan ketertiban dan keamanan warganya kemudian membuat peraturan sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan ibadah warganya.

  • Keberpihakan Terhadap Minoritas

kerukunan-antar-umat-beragama

Dan bagian paling sensitif dari aturan ini adalah soal larangan untuk berjualan dan makan, minum atau merokok di tempat umum pada siang hari di bulan puasa. Beberapa bahkan beranggapan bahwa aturan semacam ini adalah bentuk arogansi umat muslim sebagai mayoritas. Bagaimana nasib mereka yang enggak puasa dan mau makan?

Hal pertama yang perlu kita sama-sama tau adalah soal penerapan aturan ini. Meskipun ada larangan untuk berjualan pada siang hari di bulan puasa, tapi di beberapa tempat di kota Serang, Terminal misalnya, masih banyak terlihat warung-warung makan yang memilih untuk tetap berjualan dan tidak ditertibkan.
Sejatinya terminal adalah tempat umum, tapi dalam arti tempat umum yang terbatas, karena mereka yang datang ke terminal umumnya adalah pada musafir. Artinya, penerapan aturan ini sangat fleksibel.

Gua juga amat menyayangkan kalo akhirnya tayangan penertiban di berita itu dianggap sebagai sebuah cerminan kondisi dari suatu masyarakat. Seakan pemeluk agama Islam di Indonesia, adalah mayoritas yang semena-mena dan menuntut untuk dihormati ketika sedang beribadah.

Padahal, aturan tersebut cuma berlaku di Serang. Para komentator dan aktivis humanisme yang tinggal di luar daerah tersebut enggak pernah ngerasain susahnya cari cemilan pada siang hari di Jakarta karena restoran fast-food belum buka.
Bahkan yang lebih parahnya, kegiatan penertiban oleh Satpol PP kota Serang (dan di hampir setiap tempat pada umumnya) adalah kegiatan yang enggak dilakukan setiap hari, cuma aja kebetulan kemarin masuk liputan di tv, kemudian dikomentari, maka jadi rame berhari-hari.

Gua juga kebetulan bukan orang yang ahli soal media. Tapi di tengah derasnya arus informasi atas nama demokrasi seperti saat sekarang ini, gue lebih suka buat bersikap skeptis terhadap segala macam pemberitaan. Terserah lah soal agenda setting dan framing. Meskipun pada umumnya para pembaca lebih suka membaca apa yang mereka ingin baca, mereka lebih mempercayai sebuah berita yang dianggap dapat mewakili pendapat dan opini pribadi.

But, then again.. It’s just my two cents.

JKMLN

The Consistency: Simple But Not Easy

question-marks-confusion-hand-writing-chalkboard-45761846

Mereka bilang, seandainya kita menyukai suatu hal, maka kita akan selalu memiliki alasan untuk hal tersebut. Bahkan engga jarang, hal tersebut memerlukan perjuangan dan pengorbanan untuk membuktikan keseriusan kita.

Tapi yang lebih penting lagi setelahnya, adalah konsistensi kita dalam menjalankan hobi atau menekuni hal yang kita sukai tadi.

Dan menurut gua, yang kedua ini yang masih rada sulit buat gua kerjain.

Sebenernya kurang tepat kalo gua menyebut blogging sebagai hobi. Karena kalo gua inget alasan utama waktu gua pertama kali memberanikan diri untuk ikut eksis dan mengekspose diri lewat ngeblog dulu ya karena gua ngerasa perlu. Alasan pertama, gua mau berbagi cerita. Entah sama siapa aja yang bersedia mengorbankan waktunya untuk menyempatkan diri dan menghabiskan beberapa menit dari hidupnya buat baca tulisan gua yang seringnya tanpa makna.

Alasan yang kedua, karena menurut gua akan jauh lebih mudah untuk bercerita lewat kata-kata dibanding harus menjelaskan langsung di depan muka.  Semua jadi lebih mudah karena apa yang ditulis masih mungkin buat dibaca ulang, bahkan dihapus dan diganti seandainya gua ngerasa ada yang enggak pas atau kurang anu. Tapi hal yang sama engga akan berlaku seandainya kita jelasin langsung di depan orang. Isi otak dan arah pikiran yang enggak pernah bisa ditebak kemana perginya suka tiba-tiba menghilang tiap kali dibutuhkan. Yang ada, gua malah jadi ba-bi-bu sibuk sendirian gimana jelasinnya.

Balik lagi soal konsistensi, belakangan ini gua emang udah enggak posting tulisan sesering di tahun-tahun pertama, di jaman gua baru mulai dulu. Sebenernya bukan karena hidup gua kelewat garing sampe enggak ada satupun cerita yang bisa (pantes?) gua bagi untuk dibaca. Sebagai seorang pemuda yang mendekati usia matang dan masih lajang, selalu saja ada printilan-printilan dalam hidup yang bisa jadi renungan bahkan menyebabkan pergolakan batin seharian. Tapi gua udah janji, engga mau lagi terlalu sering ngumbar tulisan soal love life gua, apalagi yang belum tentu jadi. Meskipun sebenernya tema cinta-cintaan begitu yang paling gampang (dan asik) buat dibahas.

Hingga akhirnya niatan buat nerusin blogging dan nambahin posting pun tertunda karena gua ngerasa engga ada lembaran cerita dari keseharian dalam hidup gua yang bisa memberikan makna untuk siapa saja yang kebetulan baca tulisan gua.

Tapi seandainya gua boleh meminjam kalimatnya Mbah Sudjiwo Tedjo, “memang Tuhan Maha Asyik”. Bahkan ketika gua ngerasa engga ada bahan buat cerita pun dengan sendirinya udah jadi cerita sendiri.

JKMLN

The Middle Name

Gua selalu iri setiap kali denger orang lain punya nama tengah. Menurut gua, kayaknya asik aja gitu kalo pas kenalan, elu cuma kasih nama panggilan, sementara nama asli lo bisa lebih panjang. Misterius sekali.

Atau ketika nulis nama di name tag, nama tengah cuma dikasih inisial karena kalo ditulis semua bakalan terlalu panjang dan makan tempat. Boros banget.

Kalo gua, mau misterius gimana coba. Nama gua seadanya banget, Jaka Maulana.

Pernah sih gua sesekali nanya ke bokap, apa artinya. Cuma gua udah lupa apa artinya, mungkin karena waktu denger jawabannya ternyata engga keren, jadi gua pura-pura lupa. Entahlah..

Mereka bilang, nama adalah doa. Dan ini yang bikin gua bingung. Kira-kira apa doa yang tersembunyi dibalik nama gua. Waktu masih SMP dulu, temen-temen gua panggil gua Jaka Molen. Entah karena nama belakang “Maulana” atau bagian lain dari gua yang bikin mereka selalu inget pisang. Ah, jorok aja.

Ketika masuk SMA, temen gua rada engga setuju pas denger nama gua Jaka. Terus dia kasih gua nickname “Jackie”. Panggilan ini pun kemudian melekat sampai hari ini. Malah lebih parah, kadang gua engga akan nengok kalo dipanggil “Jaka”, gua baru mau nyaut kalo dipanggil “Jackie”. Keren ya. Haha!

Tapi belakangan ini, gua lebih suka dipanggil “Jaka”. Apalagi semenjak rame GoJek. Gua engga sudi dipanggil “Jek-Jek” aja!

Meskipun singkat dan seadanya, tapi gua selalu bersyukur karena orang tua gua kasih nama gua Jaka Maulana, seenggaknya gua lebih beruntung dari kembaran gua yang dapet nama Ajie Wijaya. Karena itu artinya dia harus duduk di barisan depan tiap kali ujian, sementara gua dapet posisi di tengah. Posisi strategis yang sangat menentukan. Mungkin itu yang jadi penyebab kenapa selepas SMP, gua bisa masuk sekolah negeri, sementara kembaran gua masuk sekolah swasta. Semua karena nama.

Tapi enggak ngaruh lah negeri atau swasta. Buktinya, kuliah gua malah lebih lama.

JKMLN

The Anthem

A good music will play the moments, pause the memories, stop the pain, and rewind the happines..

Sepenuhnya gua yakin dan percaya, bahwa sejatinya semua orang yang hidup di dunia engga akan bisa lepas dari yang namanya musik. Seberat apapun masalah yang kita hadapi, sepelik apapun persoalan yang menjadi onak dalam diri, semuanya akan terasa hilang seketika dan lenyap begitu saja saat musik menggema.

Gua sendiri termasuk yang rada rajin buat urusan dengerin musik. Secara rutin setiap kali gua punya waktu luang (yang artinya setiap hari, setiap waktu), gua bakal cari tau apa yang lagi happening, lagu apaan yang lagi booming.

Untuk urusan genre dan jenis musik sih, gua ngerasanya engga punya kriteria khusus. Cukup yang enak didenger di telinga gua, vokalisnya cewek, rambutnya panjang, belum berumur 25 dan warga negara Indonesia (Masnya, mau cari pegawai?)

Becanda, lah.

Tapi kalo soal playlist, gua rada pemilih. Apalagi ketika momentnya memerlukan suasana syahdu yang bikin tenang. Ya persis kayak waktu gua nulis postingan ini. Gua lebih memilih lagu-lagu jadul yang rada lawas atau bahkan tua beneran dibandingkan dengerin musik-musik up beat a la anak muda jaman sekarang. Apalagi biasanya gua baru punya waktu buat pegang laptop di jam-jam mendekati tengah malam. Dan bokap gua bukan tipe yang ikut seneng kalo anaknya seneng denger lagu dengan volume kenceng. Biasanya cuma perlu beberapa menit sampe akhirnya ada SMS masuk dari bokap yang isinya cuma “berisik.” atau “kecilin, udah malem“. Jadi untuk mensiasati kejadian begitu, gua pilih playlist yang kira-kira doi seneng juga. Gua ajak rombongan artis jaman perang semisal Tetty Kadi, Achmad Albar, Ernie Djohan dan Vonny Sumilang masuk playlist dan berdendang bersama.

Jadi serba salah kan. Mau marah, tapi enak. Gimana dong.

Buat gua sih, selera musik gua terbentuk secara perlahan seiring dengan perjalanan hidup dan segala pengalaman di setiap ceritanya. Pernah ada masanya gua hobi lagu-lagu punk rock, emo dan british pop waktu masih duduk di bangku SMP dulu. Atau masa-masa gua gemar dengerin dan ngapalin lirik lagu-lagu hip hop demi keperluan ngeband jaman gua masih SMA, atau bahkan waktu gua hobi dengerin lagu jedag-jedug biar berasa clubbing di kamar kostan semasa gua kuliah. Hingga akhirnya gua memantapkan diri untuk percaya, bahwa lagu-lagu lawas emang punya aura tersendiri setiap kali gua dengerin. Enak buat didenger, engga ribet sama melodi-melodi apaan tau, dan yang paling penting, selalu menyenangkan buat dinyanyiin.

God, It feels good, and i feel old!

JKMLN

Bekasi: Riwayatmu Kini

Bekasi.

Siapa sih yang enggak tau Bekasi?

Iya deh, mungkin engga semua pengguna jejaring sosial pernah menginjakkan kaki di Bekasi, tapi gua yakin, mereka pasti tau atau minimal pernah denger soal Bekasi. Gimana enggak, belakangan ini Kota Bekasi dan warganya punya daya tarik tersendiri bagi para netizen. Gue masih inget kok, beberapa waktu yang lalu Bekasi sempat menjadi Trending Topic buat bahan becandaan di media sosial karena lokasinya yang dianggap sudah bukan lagi di Planet Bumi. Lucu banget! Padahal itu kan sama sekali engga masuk akal. Karena Bumi ada di Bekasi! Coba aja kalian jalan lewat Jalan Perjuangan, lurus terus sampe ngelewatin Babelan, sampe ketemu pantai. Kalian akan menemukan Bumi di sana. (Mas, itu Kampung Buni!)

Oh, salah ya.. *PLAK!

Sebagai salah satu dari segelintir orang-orang terpilih yang memiliki keistimewaan buat lahir di Bekasi, gua bisa bilang saat ini Bekasi sudah jauh berkembang. Jaman dulu, tinggal di bekasi membuat gua merasa seakan-akan jauh dari peradaban. Jangankan buat nongkrong atau ngemall ke Jakarta, mau ngelewatin Kalimalang aja rasanya berat banget, karena jalur itu selalu macet. Hingga akhirnya gua terbiasa untuk hidup secara sederhana dan terpaksa apa adanya di Bekasi.

Tapi beberapa tahun belakangan ini, Kota Bekasi sudah tidak lagi membosankan seperti dulu. Dan menurut gue, hal ini engga terlepas dari keberadaan Kota Summarecon di Bekasi.

IMG_20150907_134403

Yeap. Semenjak ada Summarecon Bekasi, khususnya Summarecon Mal Bekasi, enggak ada lagi yang bisa bilang kalo Bekasi cuma kota “pinggiran“. Secara perlahan tapi pasti (tsahelah..), kehadiran Summarecon Mal Bekasi telah mengubah wajah kota Bekasi dari yang terkesan “kampungan dan terpinggirkan“, menjadi salah satu kota metropolitan dan tempat unggulan sebagai destinasi hiburan keluarga. Bahkan lebih jauh, menurut gua kehadiran Summarecon Mal Bekasi telah memberikan identitas baru bagi para pemuda dan pemudi Bekasi.

Coba deh pada jujur. Kalo dulu, mungkin begitu kalian denger kata “bekasi”, hal pertama yang terlintas di pikiran kalian adalah Bantar Gebang dan kisah legendaris tentang TPST Bantar Gebang yang konon katanya setinggi gunung. Ya kan?! Tapi sekarang, enggak lagi! Berkat kemegahannya, Summarecon Bekasi and the famous Piramida Terbalik telah menjelma menjadi Icon tersendiri bagi kota Bekasi. Ya sebelas-dua-belas deh sama Pyramida du Louvre di Paris.

IMG_20150907_134241

Tapi terlepas dari gegap gempita dan meriahnya dunia hiburan, ternyata Summarecon Bekasi juga peduli akan perkembangan pendidikan demi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan kota Bekasi. Hal ini terbukti dengan kehadiran sarana pendidikan untuk mendukung kawasan regional Summarecon Bekasi. Sebut saja sekolah-sekolah dengan kualitas premium di Summarecon Bekasi, misalnya SMA Islam Al-Azhar 8 dan SMA Kristen BPK Penabur Summarecon Bekasi.

Kenapa mesti Al-Azhar? kenapa juga harus BPK Penabur?

Karena menurut gua, sekolah-sekolah ini punya paket komplit. Boleh jadi kota Bekasi punya beberapa sekolah unggulan dengan status Negeri, tapi menurut gua, Al-Azhar dan BPK Penabur pun engga kalah gengsi.

Ambil contoh yang paling mudah aja deh, kalo di sekolah-sekolah lain ada siswi yang cantik dan pinter, maka Al-Azhar dan BPK Penabur punya siswi yang engga cuma cantik dan pinter, tapi juga mulia akhlaknya. Ini kan paket komplit namanya. A sweet, genuine, wife-material women!

Dan engga berhenti sampe di situ, nantinya, Summarecon Bekasi akan melakukan pengembangan kampus Universitas Bina Nusantara di kota Summarecon Bekasi.

Binus University di Bekasi? Canggih banget pasti!

Gue sendiri sangat berharap dengan kehadiran Binus University di Bekasi bisa melahirkan notable alumni sekelas Raisa Andriana, Joshua Suherman, Dimas Beck, atau Tina Toonita, ya tapi versi Bekasi. Pernah sih ngebayangin bagaimana jadinya kalo Raisa tinggal di Kampung Mede, sebelahan sama rumah gua, dan setiap sore gua mejeng bawa motor lewat depan rumahnya buat ngajakin nongkrong di warung pancong.

Uhm, Ga pantes, tapi yaudahlah ya..

Lebih jauh, menurut gue kehadiran Binus University di Bekasi merupakan keuntungan tersendiri bagi warga Bekasi. Semenjak ada Binus University di Bekasi, maka enggak akan ada lagi alasan yang masuk akal sehingga warga Bekasi harus kuliah jauh-jauh ke ibukota, misalnya. Jarak tempuh yang biasanya memakan waktu cukup lama serta menguras banyak tenaga bahkan biaya bakalan bikin kita lemes duluan begitu tiba di kampus. Akhirnya proses transformasi ilmu dari dosen kepada mahasiswa pun menjadi tidak efektif dan kurang maksimal. Yang lain belajar, eh, ini malah tidur.

Belum lagi seandainya dapet jadwal kuliah pagi yang artinya kita harus bangun sebelum adzan Subuh, dan terpaksa harus mandi lebih pagi demi menghindari kemacetan Jakarta. Masih untung deh kalo enggak ada yang lihat kita pergi, andai pun ada tetangga yang lihat, paling dia bakalan bergumam sendiri di dalam hati, “Si anu itu mau pergi kuliah apa jualan nasi uduk ya. Kok pagi banget..

Jadi kenapa harus memilih sekolah atau tempat kuliah yang lokasinya jauh-jauh segala semenjak sekolah di Summarecon Bekasi punya World Class University sekelas Binus begini? Pun dalam hal persaingan, gua rasa Binus University juga bakal menang banyak. Saingannya kampus islam-islaman sama kampus polisi-polisian. Kalo Binus? Udah pasti kampus kekinian.

Paginya ngampus, sorenya ngemall..

Nikmat mana lagi yang akan kamu dustakan?

keep-calm-write-2015-SB-widget

The Denial Syndrome

Gua: “Mau bayar kuliah, mbak..”

Mbaknya: “Semester berapa, pak?”

Gua: “Konversi, mbak. Eh, kok saya dipanggil Bapak ya..”

Mbaknya: “Ya kan bapak enggak pake jilbab..”

Gua: …..

Mereka bilang, age is just a number. Bahkan orang sering bilang kalo dewasa itu pilihan.

Emang sih, gua udah enggak lagi ngerasa jadi anak kecil, tapi apa iya tampilan gua segitu tuanya. Sampe udah enggak lagi dipanggil “Mas..” atau “Bang..”.

Awalnya sih gua enggak terlalu ambil pusing. Setiap kali ada yang ngobrol sama gua pake panggilan “Pak..”, gua anggap cuma salah persepsi. Mungkin angle dia kurang bagus, jadi gua keliatan lebih tua dari aslinya. Atau mungkin dia ngerasa kalo gua beneran bapaknya, dan dia adalah seorang anak yang kehilangan sosok ayah yang selama ini dirindukannya. Ah, terlalu drama.

Tapi ternyata, belakangan ini gua malah makin sering dipanggil “Pak..”. Setiap gua mampir ke minimarket, isi bensin, sampe jajan gorengan di pinggir jalan aja tetep begitu manggilnya. Ngeselin, Pak.. Pak.. Pak.. aja, emangnya nama gua Bopak!

Sebenernya kalo dipikir-pikir sih, kadang ada enaknya juga. Ketika orang lain liat gua sebagai orang yang udah dewasa atau mungkin kelewat tua, gua bakalan berasumsi mereka enggak akan aneh-aneh. Minimal mereka engga akan kurang ajar ke gua karena mereka tau gua tua bukan anak kecil. Jadi rada segan tanpa perlu gambarin tato bunga mawar di tangan kanan.

Tapi sekali lagi gua berterima kasih karena tuhan masih mau menganugerahkan gua pikiran buat cari solusi. Seandainya nanti gua udah beneran enggak tahan sama panggilan yang bikin gua ngerasa tua, gua bakalan pake jilbab!

JKMLN