Soeharto Kecil dan Kekuasaan

Suat hari ketika sedang menggembala kerbau, demikian Soeharto mengenang dirinya dalam bukunya, ternaknya jatuh ke parit. Soeharto kecil berusaha untuk mengeluarkan ternak itu, semampunya, tetapi tidak bisa. Bocah lelaki itu pun menangis. Tidak mampu berbuat apa-apa.

Saya, yang besar pada masa pasca-Orde Baru dan mengenal Presiden kedua RI dari perbuatan perbuatan yang mendirikan bulu kuduk yang banyak dibeberkan setelah reformasi, tidak bisa menyangkal rasa luluh yang menghinggapi sehabis membaca satu paragraf buku Suharto: A Political Biography karangan Robert E. Elson yang saya rekonstruksi diatas. Saya terenyuh tetapi tentu berpilin-pilin dengan perasaan yang sangat ganjil. Anak petani yang polos dan penguasa otoriter bukanlah kombinasi yang pantas.

Pengalaman masa kecil Soeharto, sebagai anak petani adalah potret hidup yang kerap diumbarnya pada periode kepresidenannya -setelah pencapaian – pencapaian militer, tentunya. Pada suatu kesempatan, Soeharto ingat, daging kakinya pernah terbelah ketika arit yang sedang dipakainya memotong rumput terlepas dari gagangnya. Perih sekali, tentu. Saat itu ia belum berusia lima belas tahun. Ia harus membantu keluarga bibi bapaknya yang menampungnya setelah kedua orang tuanya bercerai dan ibunya mengalami gangguan kejiwaan.

Sebuah adegan kehidupan yang mengiris, tak bisa diingkari. Namun tak jarang meletupkan kontroversi seputar biografi masa kecil Soeharto. Salah satu isu yang berkembang, Soeharto merupakan keturunan seorang aristokrat. Isu ini dibantah keras oleh Presiden sendiri. Soeharto, dalam sebuah konferensi pers, menghadirkan sekumpulan orang yang diklaimnya sebagai kerabat dan rekan yang dapat membuktikan garis silsilahnya sebagai anak petani.

Berbagai kejanggalan fatal tetap saja tersisa di sana-sini. Klarifikasi Presiden malah menambah kekalutan. Selain ketidakkonsistenan nama kerabat dan narasi di antara beberapa versi biografi resmi, penjelasan kepresidenan, serta penuturan kerabat, R.E Elson pun mempertanyakan apakah mungkin seorang anak petani miskin dapat bersekolah seperti Soeharto; bukankah tenaganya jelas lebih dibutuhkan di sawah?

Read More

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s